Minggu, 04 Agustus 2019

Review Hymne dan mars Universitas Jenderal Soedirman


Soedirman Student Summit (S3) 2019 sudah dekat. Tidak terasa sudah 4 tahun berlalu saat saya mengikuti kegiatan S3 2015. Saat itu terdapat tugas membuat review hymne dan mars unsoed. Akhirnya saya membuat review ini dan tidak disangka, saya masuk ke 10 besar reviewer terbaik se-angkatan mahasiswa baru Unsoed 2015. Saya dan teman-teman lainnya di panggil ke panggung Graha dan dinobatkan menjadi Duta Baca Soedirman. Sangat disayangkan, masa tugas 1 tahun tidak saya jalani dengan sebaik-baiknya. Kendala saya yaitu transportasi , waktu dan adanya kegiatan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Langsung saja berikut review yang saya buat:



Universitas Jendral Soedirman, memiliki Hymne Unsoed yang berjudul Harumkan Wiyata Tinggi serta Mars Unsoed yang berjudul Tingkatkan Martabat Bangsa. Kedua syair tersebut di ciptakan oleh R.A.J Soedjasmin.  Apabila kita mendengarkan kedua lagu tersebut dengan baik, maka kita dapat merasakan nilai dan cita yang sangat mulia terkandung didalamnya.
Hymne Unsoed yaitu Harumkan Wiyata Tinggi, memiliki arti bahwa kita harus mampu menjadi manusia yang dapat membanggakan, memberikan yang sepenuhnya dengan baik pada pelajaran yang telah kita terima sebelumnya. Dilihat dari liriknya, Unsoed mengharapkan pemikiran yang cerdas dan kritis, atas hasil karya murni mahasiswanya. Hasil karya murni tersebut diharapkan mampu dijadikan kewajiban seumur hidup seluruh mahasiswa, agar mampu turut serta dalam membangun bangsa dan negara indonesia. Indonesia memiliki kekayaan alam dan sumberdaya manusia yang sangat luas. Oleh karena itu, Unsoed bercita-cita menjadikan mahasiswanya mampu untuk memanfaatkan dengan baik kekayaan alam dan sumberdaya manusia yang ada demi tercapai bangsa Indonesia yang cerdas, serta sejahtera diiringi dengan sikap pribadi yang luhur. Semua hal itulah yang menjadi modal mahasiswa Unsoed untuk ikut andil dalam hal mencerdaskan bangsa baik saat menjadi mahasiswa, maupun setelah menjadi sarjana, agar tetap membanggakan nama Unsoed, almamaternya.
 Tingkatkan Martabat Bangsa, yang merupakan Mars Unsoed, memiliki makna penting dalam membangun semangat diri mahasiswa Unsoed agar selalu bertekad dan berusaha untuk meninggikan martabat bangsa. Semangat berjuang dapat tersampaikan pada mahasiswa Unsoed apabila Mars Unsoed ini dibawakan dengan sepenuh hati yang bangga dan memegang tanggung jawab yang besar pada almamaternya.
Jendral Soedirman yang merupakan Pahlawan Nasional Indonesia dijadikan suri tauladan bagi mahasiswa Unsoed akan sikap pantang menyerahnya. Menjadikan mahasiswa Unsoed tekun dalam bekerja, belajar dan berpendapat dengan tetap menjaga persatuan antar sesama sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila.
Mars ini juga memberikan pesan bahwa mahasiswa Unsoed harus menghasilkan daya guna yang mampu dirasakan oleh masyarakat. Hal ini bertujuan mulia untuk membawa rakyat indonesia pada kesejahteraan hidupnya agar tercipta bangsa Indonesia yang jaya.  Mahasiswa harus mampu mewujudkan cita-cita Universitas Jendral Soedirman yang luhur, pantang menyerah, serta memiliki tugas mulia dalam meningkatkan martabat bangsa.
Universitas Jendral Soedirman, menjadikan nama Pahlawan Nasional Indonesia Jendral Soedirman sebagai nama universitasnya, bertujuan untuk mengenang jasa beliau pada bangsa indonesia. Dalam keadaan sakitnya, beliau tetap berusaha mengomandoi pasukannya, begerilya 100 kilometer jauhnya untuk tetap menjaga keutuhan bangsa indonesia. Atas perjuangan beliau, akhirnya tentara Indonesia mampu menunjukkan jati dirinya sehingga bangsa lain mundur dari Negara Indonesia. Dari kisah perjuanagan beliau, dapat kita ambil pelajaran bahwa disetiap kesulitan, kita harus mampu berjuang agar dapat keluar dari kesulitan tersebut dengan tekun.
Nilai inilah yang dijadikan pesan moral dari Hymne Unsoed dan Mars Unsoed. Bahwa kita sebagai mahasiswa Unsoed harus terus maju pantang mundur dalam menciptakan karya yang dapat berguna bagi masyarakat luas. Mengabdikan diri dengan emiliki rasa tanggung jawab dan cinta tanah air pada pembangunan rakyat Indonesia yang cerdas dan sejahtera.
Permasalahan yang ada pada bangsa Indonesia saat ini, dapat dijadikan pelajaran bagi mahasiswa Unsoed, untuk berpikir kritis kedepan, agar dapat membantu menemukan jalan keluar yang baik bagi kemajuan bangsa Indonesia. Mahasiswa lah generasi muda yang dapat terus memanfaatkan pengetahuannya, mengabdikan diri pada rakyat unutk membangun martabat bangsa Indonesia yang jaya, yang sesuai dengan cita-cita Hymne dan Mars Universitas Jendral Soedirman.

Sabtu, 05 September 2015

Diary hari ke 1 BToPH 2015



Tidak terasa kami telah satu minggu menjadi mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Jendral Soedirman. Minggu ini perkuliahan diisi dengan kontrak belajar per mata kuliah. Kami bertemu dosen-dosen yang terntunya berbeda cara mengajar dan karakter. Ada sebagian mata kuliah yang telah memberi tugas perdananya.
Hari ini, kami melaksanakan rangkaian BToPH (Basic Training of Public Health) 2015 di kampus kesmas Unsoed. Kami menggunakan pakaian putih hitam lengkap dengan almamater, topi, dan co-card. Kami datang pukul 06.30 dan memasuki ruang kuliah 4.
Materi pertama yang kita laksanakan adalah Analisis lingkungan kampus. Kelompok kami, Promosi Kesehatan, mendapat lokasi lapangan voli rumput depan gedung kesmas. Disana kami menganalisa permasalahan lingkungan yang ada di lapangan tersebut. Lalu kami juga memikirkan faktor penyebab, dampak yang ditimbulkan dari masalah, dan solusi dari permasalahan tersebut.
Selesai analisa kampus, kami masuk ke materi tentang ISMKMI (Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Mayarakat Indonesia). Disana kami diberi informasi bahwa ISKMI didirikan di Ujung Pandang, Makassar, 24 Desember 1991. Dengan tujuan persatuan dan kesatuan antar mahasiswa kesmas dalam rangka pembinaan  kepada masyarakat. Saya sebagai mahasiswa kesmas tentu bangga bahwa kami telah memiliki ikatan mahasiswa tingkat nasional yang telah dakui DIKTI yaitu ISMKMI.
Selanjutnya, kami kehadiran Prof. Adik Wibowo Sebagai pembicara kuliah umum. Beliau menceritakan pengalamannya selama menjadi public health hingga ia dipanggil untuk menjadi kepala WHO, organisasi di bawah PBB, di negara Nepal dan Myanmar. Beliau juga memberikan kami pengetahuan bahwa kami harus bangga menjadi Public Health yang akan mengurusi masyarakat sehat agar menjadi sehat. Saya mendapat inspirasi dari beliau karna saya juga ingin bisa bergabung di WHO.
Lalu kami mendapat materi dari ibu Siti Masfiah, dosen kesmas. Beliau memberikan materi tentang 8 bidang kesehatan masyarakat. Kami juga kedatangan kakak SC dari BEM KBMKM UNSOED. Mereka meminta kami untuk memprsentasikan hasil analisa lingkungan kami.
Mereka menunjuk seorang dari kelompok untuk presentasi. Kebetulan aku terpilih dan maju kedepan. Jujur, saya sangat grogi, tapi saya harus bisa mengontrol diri. Masing-masing kelompok juga mempresentasikan makalah dan power point bidangnya masing-masing.
Setelah itu, kami turun ke lapangan untuk evaluasi bersama komdis. Besok adalah hari terakhir rangkaian ospek jurusan kesmas. Semoga tidak ada halangan satupun agar acara dapat ditutup dengan baik dan menginggalkan kesan dan kenangan dan pengalaman yang indah di awal periode kami sebagai mahasiswa.

Senin, 31 Agustus 2015

Diary OSMB hari ke 2



Tanggal 29 Agustus 2015, merupakan hari kedua dilaksanakannya OSMB & BtoPH ENDEMIK 2015. Kegiatan hari ini diawali dengan senam. Dari awal kegiatan Soedirman Student Summit (S3) 2015 hingga saat itu, kegiatan kami lebih banyak di dalam ruangan mendengarkan materi yang disampaikan dosen. Sehingga saat saya tahu ada kegiatan senam, saya sangat bersemangat.
Saya datang dengan menggunakan celana training dan kaos ENDEMIK 2015 berwarna ungu. Saya sedikit terburu-buru karena semalaman saya mengerjakan tugas untuk kegiatan OSMB hari itu. Walau ellah tapi saya mencoba menikmatinya. Setelah sampai saya langsung baris di kelompok saya untuk apel pagi.
Setelah apel kami di arahkan ke lapangan belakang gedung kesmas. Disana kami mengikuti gerakan senam tim hore yang seru dan enerjik. Saya ikut nyanyi sedikit saat lagu dangdut yang diputar. Saya kira setelah senam kami langsung materi dikelas. Ternyata kami diberikan kegiatan outbond.
Jujur saya sangat suka kegiatan oputbond post to post. Jadi saya benar-benar bersemangat dengan kelompok promkes untuk menemukan post yang kosong. Saat di post gerbang gor, kami ditawari koin merah untuk ditukarkan dengan salah satu teman kami. Kami memilih untuk tidak menerimanya dari pada menang namun ada yang harus dikorbankan.
Kami keliling seluruh post dan mendapatkan beberapa koin perak dan 1 koin emas. Hingga kami tiba di 2 pos terakhir, yaitu di gor dan di depan asrama putri. Kami memberanikan diri untuk mencoba tantangan di pos asrama putri, meski dengan kekhawatiran kehilangan seluruh koin. Kami pikir, lebih baik kami mencoba dari pada tidak sama sekali. Kami gagal dalam pos tersebut namun kami tidak kecewa karna telah berani mencoba.
Setelah outbond selesai, kami buru-buru ganti baju untuk kegiatan selanjutnya. Kelas kami diisi oleh tim hore yang mengadakan permainan juga hadiah. BEM KBMKM juga datang dengan studi kasus “prostitusi online” . kami diajak untuk berfikir kritis menilai suatu permasalahan yang ada.
Kami juga mendapatkan materi tentang PKM oleh bapak Sahudin Yuniarno. Dengan salah satu kutipan dari beliau yaitu “mahasiswa sebagai tonggak perubahan bangsa”. Setelah itu, bapak Budi Aji datang dan memberikan kami materi tentang MIRACLE yaitu jati diri seorang S.KM
Secara keseluruhan, hari itu benar-benar menyenangkan dan banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Semoga kegiatan tersebut bisa memacu saya untuk mampu menghasilkan kerja yang lebih lagi.

Jumat, 28 Agustus 2015

Kebijakan Pemerintah di Bidang Kesehatan



Jaminan Persalinan (Jampersal) adalah  jaminan pembiayaan yang digunakan untuk pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang pembiayaannya dijamin oleh Pemerintah. Ada 4 sasaran subyek dalam pelaksanaan Jampersal, yakni; ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas yang belum memiliki jaminan pembiayaan persalinan (pasca melahirkan sampai 42hari) serta bayi baru lahir (0-28 hari).

Jampersal mulai berlaku sejak 1 Januari 2011. Program Jampersal dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia. Klaim dapat diajukan apabila memenuhi ketentuan dalam Permenkes No 631 Tahun 2011 tentang Petunjuk Teknis Jampersal yang meliputi:
1.     Dokumen klaim yang lengkap
2.     Pelayanan diberikan di fasilitas kesehatan yang telah ditentukan
3.     Klien tidak dijamin oleh pihak/asuransi lain
4.     Telah diverifikasi oleh Tim Pengelola Kabupaten/Kota

Pelayanan Jampersal ini terdapat di fasilitas kesehatan pemerintah seperti Puskesmas dan jaringannya termasuk Poskesdes/Polindes dan Rumah Sakit rujukan kelas III milik Pemerintah. Juga di fasilitas kesehatan swasta yang memiliki Perjanjian Kerja Sama dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, yang meliputi dokter praktik swasta, klinik swasta, bidan praktik swasta, klinik bersalin atau rumah sakit swasta.

Ada dua ruang lingkup pelayanan Jampersal: pelayanan tingkat pertama dan tingkat lanjutan. Pada tingkat pertama, pelayanan diberikan oleh tenaga kesehatan berkompeten dan berwenang. Layanan ini dilakukan di Puskesmas, Puskesmas mampu PONED (Pelayanan Obstetrik Neonatal Emergensi Dasar), serta jaringannya termasuk Polindes/Poskesdes, dan fasilitas kesehatan swasta. Jenis pelayanan kesehatan pada tingkat pertama meliputi: pemeriksaan kehamilan 4 kali, persalinan normal, pelayanan nifas normal 3 kali termasuk KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir normal.

Untuk Puskesmas PONED terdapat layanan tambahan yakni pemeriksaan kehamilan pada kehamilan risiko tinggi, pelayanan pasca keguguran, persalinan per vaginam dengan tindakan emergensi dasar, pelayanan nifas dengan tindakan emergensi dasar dan pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar.

Selanjutnya, pada pelayanan tingkat lanjutan, tenaga kesehatan yang melayani adalah tenaga spesialis. Sifat layanan lanjutan berdasarkan rujukan, kecuali pada kondisi kedaruratan.

Alokasi dana Jampersal dikirimkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tergabung dengan anggaran Jamkesmas untuk pelayanan dasar. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
sebagai penanggung jawab Jamkesmas di wilayahnya membuka rekening khusus Jamkesmas pada bank Operasional KPPN V Jakarta.

Dalam penggantian biaya layanan Jampersal, pemerintah menetapkan sistem klaim (reimbursement). Proses klaim dilakukan oleh fasilitas kesehatan berdasarkan pelayanan yang telah diberikan kepada ibu hamil. Pengajuan klaim diajukan ke Tim Pengelola Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dilengkapi dengan bukti penunjang pelayanan. Bukti pelayanan pertolongan persalinan harus ditandatangani pasien. Kemudian Tim Pengelola Dinkes Kabupaten/Kota melakukan verifikasi, memberikan persetujuan, dan akhirnya membayarkan tagihan klaim.

Adapun untuk pelayanan di rumah sakit, mekanisme klaim dilakukan melalui mekanisme INA-CBGs. Persyaratan pengajuan klaim adalah surat rujukan, identitas ibu hamil, SJP (Surat Jaminan Persalinan), bukti penunjang lain yang akan diklaim, kemudian diajukan untuk diverifikasi oleh verifikator independen di RS.

Program Jampersal diluncurkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai salah satu upaya menekan jumlah kematian ibu yang masih sangat tinggi di saat kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Program ini mendapatkan apresiasi yang cukup bagus dari masyarakat.

Namun, dengan banyaknya pengguna Jampersal ini, perlu diteliti lebih lanjut apakah pembiayaan gratis menyebabkan pertumbuhan penduduk tumbuh lebih pesat. Sebaiknya setelah mendapatkan Jampersal ini, warga mampu memanfaatkan pelayanan KB pasca persalinan yang menjadi salah satu program dari Jampersal agar pertumbuhan penduduk tetap terkontrol. Semua hal tersebut dilakukan agar tercapai masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan serta tujuan mulia Jampersal dapat terwujud nyata.

Artikel Promosi Kesehatan

  1. Pengertian Promosi Kesehatan
Sehat :
  • Andrea Waas (1994), …no examination of health promotion is possibly without first considering what health is.
  • WHO, …a complete state of physical, mental and social wellbeing, and not merely the absence or infirmity
  • WHO (1986), …a resource for everyday life, not the objective of living.
  • UU 23/1992, …Keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat, serta produktif secara ekonomi dan sosial.
Promosi Kesehatan :
  • Soekidjo Notoatmojo (2005) :
Pertama :
…promosi kesehatan dalam konsep Level and Clark (4 tingkat pencegahan penyakit) berarti peningkatan kesehatan.
Kedua :
…upaya memasarkan, menyebarluaskan, memperkenalkan pesan-pesan kesehatan, atau upaya-upaya kesehatan sehingga masyarakat menerima pesan-pesan tersebut.
  • WHO (1984), merevitalisasi pendidikan kesehatan dengan istilah promosi kesehatan, kalau pendidikan kesehatan diartikan sebagai upaya perubahan perilaku maka promosi kesehatan tidak hanya untuk perubahan perilaku tetapi juga perubahan lingkungan yang memfasilitasi perubahan perilaku tersebut.
  • Green (1984), …promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
  • Ottawa Charter (1986),… “the process of enabling people to control over and improve their health”. (Proses pemberdayaan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya).
  • Victorian Health Fundation – Australia (1997),…a program are design to bring about ‘change’ within people, organization, communities and their environment.
  • Bangkok Charter (2005),… “the process of enabling people to increase control over their health and its determinants, and thereby improve their health
  1. Tujuan Promosi Kesehatan
–       Memampukan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.
–       Menciptakan suatu keadaan, yakni perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
  1. Sasaran Promosi Kesehatan
Secara prinsipil, sasaran promosi kesehatan adalah masyarakat. Masyarakat dapat dilihat dalam konteks komunitas, keluarga maupun individu. Sasaran promosi kesehatan juga dapat dikelompokkan menurut ruang lingkupnya, yakni tatanan rumah tangga, tatanan sekolah, tatanan tempat kerja, tatanan tempat-tempat umum, dan institusi pelayanan kesehatan.
  1. Prinsip-prinsip Promosi Kesehatan
–       Promosi Kesehatan (Health Promotion), yang diberi definisi : Proses pemberdayaan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya (the process of enabling people to control over and improve their health), lebih luas dari Pendidikan atau Penyuluhan Kesehatan. Promosi Kesehatan meliputi Pendidikan/ Penyuluhan Kesehatan, dan di pihak lain Penyuluh/Pendidikan Kesehatan merupakan bagian penting (core) dari Promosi Kesehatan.
–       Promosi Kesehatan adalah upaya perubahan/perbaikan perilaku di bidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhi lingkungan atau hal-hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan
–       Promosi Kesehatan juga berarti upaya yang bersifat promotif (peningkatan) sebagai perpaduan dari upaya preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan) dalam rangkaian upaya kesehatan yang komprehensif.
–       Promosi kesehatan, selain tetap menekankan pentingnya pendekatan edukatif yang selanjutnya disebut gerakan pemberdayaan masyarakat, juga perlu dibarengi dengan upaya advokasi dan bina suasana (social support).
–       Promosi kesehatan berpatokan pada PHBS yang dikembangkan dalam 5 tatanan yaitu di rumah/tempat tinggal (where we live), di sekolah (where we learn), di tempat kerja (where we work), di tempat-tempat umum (where we play and do everything) dan di sarana kesehatan (where we get health services).
–       Pada promosi kesehatan, peran kemitraan lebih ditekankan lagi, yang dilandasi oleh kesamaan (equity), keterbukaan (transparancy) dan saling memberi manfaat (mutual benefit). Kemitraan ini dikembangkan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat, juga secara lintas program dan lintas sektor.
–       Promosi Kesehatan sebenarnya juga lebih menekankan pada proses atau upaya, dengan tanpa mengecilkan arti hasil apalagi dampak kegiatan. Jadi sebenarnya sangat susah untuk mengukur hasil kegiatan, yaitu perubahan atau peningkatan perilaku individu dan masyarakat. Yang lebih sesuai untuk diukur: adalah mutu dan frekwensi kegiatan seperti: advokasi, bina suasana, gerakan sehat masyarakat, dll.
  1. Metode dan Media Promosi Kesehatan
Metode :
  1. Metode Promosi Individual
–       Bimbingan dan penyuluhan
–       Interview (wawancara)
  1. Metode Promosi Kelompok
–       Kelompok Besar
a)    Ceramah
b)    Seminar
–       Kelompok Kecil
a)    Diskusi
b)    Brain Storming
c)    Snow Ball
d)    Buzz Group
e)    Role Play
f)     Permainan Simulasi
  1. Metode Promosi Kesehatan Massal
–       Public Speaking
–       Media Massa
Media :
Lihat Sukidjo (2005) halaman 290.
  1. Sejarah Promosi Kesehatan
    1. Era propaganda dan Pendidikan Kesehatan Rakyat (masa kemerdekaan sampai 1960an)
–       Pada tahun 1924 oleh pemerintah Belanda dibentuk Dinas Higiene. Kegiatan pertamanya berupa pemberantasan cacing tambang di daerah Banten. Bentuk usahanya dengan mendorong rakyat untuk membuat kakus/jamban sederhana dan mempergunakannya. Lambat laun pemberantasan cacing tambang tumbuh menjadi apa yang dinamakan “Medisch Hygienische Propaganda”. Propaganda ini kemudian meluas pada penyakit perut lainnya, bahkan melangkah pula dengan penyuluhan di sekolah-sekolah dan pengobatan kepada anak-anak sekolah yang sakit. Timbullah gerakan, untuk mendirikan “brigade sekolah” dimana-mana.
–       Perintisan Pendidikan Kesehatan Rakyat oleh Dr. R. Mohtar
  1. Era Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan (1960-1980)
–    Munculnya istilah Pendidikan Kesehatan dan diterbitkannya UU Kesehatan 1960
–    Ditetapkannya Hari Kesehatan Nasional (12 November 1964)
  1. Era PKMD, Posyandu dan Penyuluhan Kesehatan melalui Media Elektronik (1975-1995)
–       Peran serta dan pemberdayaan masyarakat (Deklarasi Alma Ata, 1978)
–       Munculnya PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa)
–       Munculnya Posyandu
–       Penyuluhan kesehatan melalui media elektronik (dialog interaktif, sinetron dll)
  1. Era Promosi dan Paradigma Kesehatan (1995-2005)
–       Konferensi Internasional Promosi Kesehatan I di Ottawa, Kanada,  munculnya istilah promosi kesehatan (Ottawa Charter, 1986)
memuat 5 strategi pokok Promosi Kesehatan, yaitu : (1) Mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (healthy public policy); (2) Menciptakan lingkungan yang mendukung (supportive environment); (3) Memperkuat gerakan masyarakat (community action); (4) Mengembangkan kemampuan perorangan (personnal skills) ; dan (5) Menata kembali arah pelayanan kesehatan (reorient health services).
–       Konferensi Internasional Promosi Kesehatan II di Adelaide, Australia (1988)
Konferensi ini menekankan 4 bidang prioritas, yaitu: (1) Mendukung kesehatan wanita; (2) Makanan dan gizi; (3) Rokok dan alkohol; dan (4) Menciptakan lingkungan sehat.
–       Konferensi Internasional Promosi Kesehatan III di Sundval, Swedia  (1991)
Konferensi ini mengemukakan 4 strategi kunci, yakni: (1) Memperkuat advokasi diseluruh lapisan masyarakat; (2) Memberdayakan masyarakat dan individu agar mampu menjaga kesehatan dan lingkungannya melalui pendidikan dan pemberdayaan; (3) Membangun aliansi; dan (4) Menjadi penengah diantara berbagai konflik kepentingan di tengah masyarakat.
–       Konferensi Internasional Promosi Kesehatan IV di Jakarta, Indonesia  (Jakarta Declaration on Health Promotion, 1997)
Promosi Kesehatan abad 21 adalah :
  • Meningkatkan tanggungjawab sosial dalam kesehatan;
  • Meningkatkan investasi untuk pembangunan kesehatan;
  • Meningkatkan kemitraan untuk kesehatan;
  • Meningkatkan kemampuan perorangan dan memberdayakan masyarakat;
  • Mengembangkan infra struktur promosi kesehatan.
PROMOSI KESEHATAN SAAT INI
Promosi Kesehatan di Indonesia telah mempunyai visi, misi dan strategi yang jelas, sebagaimana tertuang dalam SK Menkes RI No. 1193/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. Visi, misi dan strategi tersebut sejalan dan bersama program kesehatan lainnya mengisi pembangunan kesehatan dalam kerangka Paradigma Sehat menuju Visi Indonesia Sehat.
Visi Promosi Kesehatan adalah: “PHBS 2010”, yang mengindikasikan tentang terwujudnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya sehat. Visi tersebut adalah benar-benar visioner, menunjukkan arah, harapan yang berbau impian, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dicapai. Visi tersebut juga menunjukkan dinamika atau gerak maju dari suasana lama (yang ingin diperbaiki) ke suasana baru (yang ingin dicapai). Visi tersebut juga menunjukkan bahwa bidang garapan Promosi kesehatan adalah aspek budaya (kultur), yang menjanjikan perubahan dari dalam diri manusia dalam interaksinya dengan lingkungannya dan karenanya bersifat lebih lestari.
Misi Promosi Kesehatan yang ditetapkan adalah: (1) Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat untuk hidup sehat; (2) Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi terciptanya phbs di masyarakat; (3) Melakukan advokasi kepada para pengambil keputusan dan penentu kebijakan. Misi tersebut telah menjelaskan tentang apa yang harus dan perlu dilakukan oleh Promosi Kesehatan dalam mencapai visinya. Misi tersebut juga menjelaskan fokus upaya dan kegiatan yang perlu dilakukan. Dari misi tersebut jelas bahwa berbagai kegiatan harus dilakukan serempak.
Selanjutnya strategi Promosi Kesehatan yang selama ini dikenal adalah ABG, yaitu: Advokasi, Bina Suasana dan Gerakan Pemberdayaan Masyarakat. Ketiga strategi tersebut dengan jelas menunjukkan bagaimana cara menjalankan misi dalam rangka mencapai visi. Strategi tersebut juga menunjukkan ketiga strata masyarakat yang perlu digarap. Strata primer adalah masyarakat langsung perlu digerakkan peran aktifnya melalui upaya gerakan atau pemberdayaan masyarakat (community development, PKMD, Posyandu, Poskestren, Pos UKS, dll). Strata sekunder adalah para pembuat opini di masyarakat, perlu dibina atau diajak bersama untuk menumbuhkan norma perilaku atau budaya baru agar diteladani masyarakat. Ini dilakukan melalui media massa, media tradisonal, adat, atau media apa saja sesuai dengan keadaan, masalah dan potensi setempat. Sedangkan strata tertier adalah para pembuat keputusan dan penentu kebijakan, yang perlu dilakukan advokasi, melalui berbagai cara pendekatan sesuai keadaan, masalah dan potensi yang ada. Ini dilakukan agar kebijakan yang dibuat berwawasan sehat, yang memberikan dampak positif bagi kesehatan.
Dengan visi, misi dan strategi seperti ini, Promosi Kesehatan juga jelas akan melangkah dengan mantapnya di masa depan. Namun sebagaimana konsep Promosi kesehatan yang disebutkan di muka, visi, misi dan strategi tersebut juga harus dapat dioperasionalkan secara lebih membumi di lapangan, sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat.

Jurnal Penyakit Internasional

 Middle East Respiratory Syndrome– advancing the public health and research agenda on MERS- lessons from the South Korea outbreak


The weekly epidemiological record of the World Health Organisation 15th May 20151 states that ‘the cases of Middle East Respiratory Syndrome (MERS) recently exported to other countries have not resulted in sustained onward transmission to persons in close contact with these cases on aircraft or in the respective countries outside the Middle East.’ This situation has changed rapidly and remarkably. Five days after the publication of this report, the first case of a MERS-coronavirus (MERS-CoV) infection in Seoul, South Korea was reported on 20 May 20152. This patient had a history of recent travel to the Middle East. Over the ensuing three weeks, the number of secondary, tertiary and perhaps quaternary cases of MERS from this single patient rose rapidly and has become the largest case cluster of MERS occurring outside the Middle East. The Korean outbreak appears from the available data to be attributable to poor infection control measures, although the hospital air-conditioning system's lack of ventilators may have resulted in the rapid extensive spread of MERS among patients and staff3. Furthermore, MERS-CoV was detected in bathrooms and on doorknobs indicating ineffective disinfection procedures.
As of June 9th 2015, there have been 95 cases (with 7 deaths) of MERS-CoV infection associated with the South Korean outbreak3. Over two thirds of all confirmed cases have been reported from St. Mary's Hospital, a 400 bed facility in Gyeonggi Province, Seoul and at least 14 facilities have reported MERS cases during the outbreak. This unusually large number of secondary (80 cases) and tertiary (14 cases) associated with an imported case of MERS by a traveller is a significant development (as per 11th June 2015). Furthermore, whilst the Korea outbreak has focussed global attention, a nosocomial outbreak of MERS in Hufoof, Saudi Arabia has been on going since 20 Apr 2015 and resulted in 26 cases over the past 3 weeks4. There continue to be MERS cases reported from Jeddah and Riyadh, which are “sporadic” community cases. To date Saudi Arabia has reported 1026 MERS cases including 450 deaths (44 percent) since the first MERS case was reported in September, 2012.
The South Korean and Hufoof outbreaks raise several important concerns:
  • First the Korean outbreak emphasizes that MERS-CoV remains a major threat to global health security and could have epidemic potential with time, even in the absence of virus mutation.
  • Second the nature of the virus and its evolution into a more virulent form continues to need close monitoring. Genomic sequencing studies of MERS-CoV obtained from the first Korean case published by the Chinese Center for Disease Control and Prevention5 has shown homology with MERS-CoV strains originating from Saudi Arabia. Whilst no significant variation has been identified it remains crucial that genomic studies for as many MERS cases as possible are performed.
  • Third, up to a million pilgrims from over 182 countries will travel to Mecca, Saudi Arabia for the Ramadan period which begins on June 18th 2015 and the threat of further global spread remains.
  • Fourth, for the past 18 months, MERS and other global infectious diseases threats were totally overshadowed by the Ebola virus disease epidemic6, highlighting the inadequacies of global surveillance systems to focus concurrently on several emerging and re-emerging infectious diseases simultaneously.
  • Fifth, many basic questions about the epidemiology, pathogenesis and management of MERS-CoV remain to be answered8.
  • Sixth, it's been 3 years since MERS was identified as a lethal new viral respiratory infection of humans9 and primary cases of MERS-CoV infection continue to occur throughout the year7 in the Middle East. The South Korean outbreak now illustrates the need to enhance MERS-CoV surveillance systems, and heightens global awareness of MERS and the importance of infection control measures.
  • Finally, the Korean outbreak emphasizes the importance of individuals, especially healthcare workers, recognizing that they may have been exposed to MERS patients and seeking medical care and self-quarantining at an early time during the disease course.
Moving forward, it is critical that global efforts are focussed urgently on the basic science and on clinical and public health research so that the exact mode of transmission to and between humans, and new drugs and other therapeutic interventions and vaccines can be developed6, 7. Two coronaviruses, SARS-CoV and now MERS-CoV, which cause severe respiratory disease with high mortality rates emerged within the past two decades10, reinforcing the need for clinically efficacious antivirals targeting coronaviruses. Lessons learnt from the recent Ebola Virus Disease could also be applied to MERS11. Whilst MERS does not yet constitute an International Public Health Emergency the Korean outbreak is an extraordinary event. Previous estimates of the epidemic potential of MERS-CoV have not found that it had pandemic potential12, suggesting that airborne, human-to-human transmission is rare, but the present outbreak indicates that simple hygiene is important, especially in health care facilities. The index patient arrived at a health care system that was able to identify MERS as a risk given his travel itinerary and had the laboratory resources to rapidly identify the virus.
With continuing spread of MERS-CoV to countries outside the Middle East and to all continents, MERS remains a public health risk and possible consequences of further international spread could be serious in view of the patterns of nosocomial transmission within healthcare facilities. Further spread to countries with weak health systems and laboratory facilities unable to rapidly identify an unexpected virus may result in a widespread outbreak or an epidemic in many of the 182 countries from which Ramadan, Hajj and Umrah pilgrims originate.


References

  1. Embarek, P.K. and Kerkhove, V. Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) –current situation 3 years after the virus was first identified. Wkly Epidemiol Rec. 2015 May 15; 90: 245–250
  2. WHO. Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV)— Republic of Korea. Disease outbreak news May 30. Geneva: World Health Organization, 2015. http://www.who.int/csr/don/01-june-2015-merskorea/en/ (accessed June 2, 2015).
  3. Source: Korean MOH press release 9 Jun 2015 [trans. Korean subscribers, edited] http://www.mw.go.kr/front_new/al/sal0301vw.jsp?PAR_MENU_ID=04&MENU_ID=0403&page=1&CONT_SEQ=323205.
  4. WHO Report: Middle East Respiratory Syndrome coronavirus (MERS-CoV) – Saudi Arabia-Disease outbreak news http://www.who.int/csr/don/04-june-2015-mers-saudi-arabia/en/.
  5. PRO/AH/EDR> MERS-CoV (57): South Korea, Saudi Arabia, viral sequencing, WHO. ProMED 6 June 2015.
  6. Zumla, A., Perlman, S., McNabb, S.J., Shaikh, A., Heymann, D.L., McCloskey, B. et al. Middle East respiratory syndrome in the shadow of Ebola. Lancet Respir Med. 2015 Feb; 3: 100–102
  7. Zumla, A., Hui, D., and Perlman, S. Middle East respiratory Syndrome. Lancet. 2015; (in press)
  8. Hui, D.S. and Zumla, A. Advancing priority research on the Middle East respiratory syndrome coronavirus. J Infect Dis. 2014 Jan 15; 209: 173–176
  9. Zaki, A.M., van Boheemen, S., Bestebroer, T.M. et al. Isolation of a novel coronavirus from a man with pneumonia in Saudi Arabia. N Engl J Med. 2012; 367: 1814–1820
  10. Hui, D.S., Memish, Z.A., and Zumla, A. Severe acute respiratory syndrome vs. the Middle East respiratory syndrome. Curr Opin Pulm Med. 2014 May; 20: 233–241 (do)
  11. Heymann, D.L., Chen, L., Takemi, K., Fidler, D.P., Tappero, J.W., Thomas, M.J. et al. Global health security: the wider lessons from the west African Ebola virus disease epidemic. Lancet. 2015 May 9; 385: 1884–1901DOI: http://dx.doi.org/10.1016/S0140-6736(15)60858-3
  12. Bauch, C.T. and Oraby, T. Assessing the pandemic potential of MERS-CoV. Lancet. 2013 Aug 24; 382: 662–664DOI: http://dx.doi.org/10.1016/S0140-6736(13)61504-4 (Epub 2013 Jul 5)